Ayo baca ini deh ya! Apalagi yang sering nyalahin
orangtuanya sendiri*gaknipak*Kamu harus ngertiin orangtua juga ya, baca deh. Ayo apa yang kamu rasain atau komentar apapun bisa comment ya hihi. Makasih yaaa yang udah baca ini.
Welcome to My Blog
Thanks for your visit and join to my blog.
Saturday, June 15, 2013
Wednesday, May 29, 2013
Mom Dad, listen to this feeling!
'Mom Dad, listen to this feeling!' ini bukan tentang pribadi saya, tapi saya pernah merasakannya ini. Dan mungkin kalian semua pernah ngerasain ini,kecuali anak tunggal. Tapi ini semua hanya karena emosi. Next! Ayoo mulai.
Tuesday, February 26, 2013
Back to my blog!
Hai, udah lama ya gak buka blog ini. Dan untungnya bisa ke buka ya. Sekarang udah kelas 9 loh! Next........
Sunday, February 12, 2012
Saturday, February 11, 2012
Cantik tapi Durhaka
Cantik tapi Durhaka
Dahulu
kala hiduplah seorang janda setengah baya dengan seorang anak gadinya yang
bernama si Umbut Muda. Gadis itu begitu cantik parasnya. Rambutnya panjang
terurai.
Kecantikan
si Umbut Muda memang tidak ada bandingnya di zaman itu. Sungguh tak dapat
dicari duanya. Karena selalu dipuji-puji, si Umbut Muda jadi tinggi hati,
congkak, dan angkuh. Pakaiannya pun mestilah kain sutra termahal. Untunglah
harta peningggalan almarhum ayahnya memang cukup untuk memenuhi keperluan si
Umbut Muda. Kalau tidak apalah yang diharapkan, ibunya Cuma seorang pengrajin
tenun mengambil upah menenun kain songket ke sana ke mari, sekedar cukup
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja.
“Mak,
jangan hendak senang-senang saja, ikut menghabiskan harta peninggalan ayahku,”
tegur si Umbut Muda, bila suatu ketika melihat ibunya istirahat tidak menenun.
Padahal saat itu ibunya memang sedang kelelahan.
Tidak
puas berceloteh panjang, si Umbut Muda masih juga bermasam muka, wajahnya
cemberut. Ibunya di rumah mewah ukuran di zaman itu, dihardik dan kadang-kadang
terpaksa tidur di serambi rumah bertemankan nyamuk yang gatalnya bukan main.
“Hem,
rasailah oleh Mak!” kata si Umbut Muda , tatkala ibunya terpaksa tidur di
serambi rumah seperti itu.
“Umbut
suruh ambil sisir jatuh saja Mak tak segera ambilkan. Tak sempatlah, benang
tenun kusutlah, macam-macam alasan,” kata gadis jelita itu menghardik ibunya
yang terbaring beralaskan tikar ubang.
“Itulah
namanya hukuman bagi orang tua pemalas!”
Ibu yang
bernasib malah itu harus duduk di bawah perintah si Umbut Muda, anak
satu-satunya yang cukup dikasihi, dimanjakan sejak dalam buaian hingga gadis
remaja.
“Maafkan
Mak!” ibunya mengiba-iba. “Mak, khilaf, maafkanlah!”
Bila
sudah melihat orang tua itu mengalah, meminta maaf, dan ia merasa
disanjung-sanjung. Ketika itulah si Umbut Muda mengizinkan kembali supa ibunya tidur
di rumah menempati sebagaimana mestinya.
Pada
suatu hari menikahlah puteri seorang bangsawan ternama, undangannya terdiri
atas orang-orang ternama, jemputan terhormat termasuk si Umbut Muda. Ia tinggal
di seberang Sungai Jantan.
“Mak,
berpakaianlah!” perintah si Umbut Muda kepada ibunya. “Mak adalah tukang
paying, Umbut hendak ke pesta pernikahan orang,” katanya.
“Iyalah,
Umbut,” sahut ibunya dengan patuhnya.
Si Umbut
Muda pun mengenakan pakaian serba mahal dan perhiasan yang gemerlap. Wajah si Umbut
Muda bertambah cantik, anggun berjalan. Ia berpayung biru muda, diberi
rumbai-rumbai manik kaca buatan Cina.
Lenggang lenggok si Umbut Muda tampak
sangat kentara saat jembatan lintas Sungai Jantan dititinya. "Krut … krut
…” jembatan berderit-derit. Ibunya
bertugas sebagai tukang payung berjalan disebelah kiri.
Entah apa yang menjadi penyebabnya,
mungkin sudah kehendak Tuhan, tiba-tiba terlepas terlepas dua susunan gelang
tangan kanan si Umbut Muda berdenting. Gelang-gelang itu terpelanting, lalu
jatuh ke dalam sungai.
"Mak, gelang Umbut jatuh,"
kata si Umbut Muda. Ia menyuruh ibunya terjun ke air sungai. "Mak, ambil
gelangku!" katanya sambil mendorong ibunya ke dalam sungai.
"Burr ...,"
gelembung-gelembung air mengangkat dari napas ibunya. "Burr...," air
sungai pun menggelegak. Pada saat itu pula turun angin puting beliung
bergulung-gulung, "Siuuuung ...."
Si Umbut Muda pun tergulung angin
puting beliung itu. Ia terpelanting ke dalam sungai lalu tenggelam.
"Maaak, to longlah aku ...!"
Akan tetapi, ibunya tak bisa berbuat
apa-apa. Suara gadis itu semakin sayup akhirnya gadis durhaka itu mati lemas
terikat tarikan lumpur. Sementara ibunga terangkat ke tebing sungai dengan
selamat.
Dikutip dari "Kumpulan Cerita Rakyat dan Sejarah
Nasional", M.B. Rahimsyah
Kancil dan Kera
Kancil
dan Kera
Seekor Kera asyik makan pisang.
Satu per satu buah pisang masak ditanda itu dipetik. Dikupas dengan hati-hati,
lalu dimakan.
Kancil ingin juga menikmati
pisang itu. Bagaimana cara mengambilnya? Memintanya? Ah, pasti tidak diberi.
Kancil tahu benar Kera itu sangat kikir.
Kancil menemukan akal.
Dilemparinya Kera itu dengan tanah. Kancil terus saja melempari Kerea. Ia
berusaha membuat Kera marah.
Lama-kelamaan Kera menjadi kesal
dan marah. Ia balik melempari Kancil. Satu per satu pisang dijadikan peluru.
Kancil jadi sasaran peluru pisang.
Kancil pura-pura kesakitan. Ia
melompat-lompat mengelakkan peluru. Kadang-kadang ia jatuh. Sekali-kali ia pun
mengaduh kesakitan.
Kera puas. Ia pergi mencari
pisang lain. Ditinggalkannya Kancil mengerang-erang di tanah.
Akal bulus sang kancil berhasil.
Kera meninggalkan buah pisang itu. Kancil tinggal mengumpulkan pisang itu. Lalu
dimakannya dengan santai.
Dikutip
dari “ Pandai Berbahasa Indonesia “
Departemen
Pendidikan dan Kebudaaan
Thursday, February 9, 2012
Saat Jam Istana Ngambek
Saat
Jam Istana Ngambek
Apa jadinya kalau Jam Istana ngambek? Padahal, jam itu berguna untuk
mengingatkan seluruh penghuni istana. Akibat Jam Istana tidak berdentang, Raja
jadi bangun kesiangan. Ratu jadi terlambat memesan menu masakan untuk hari itu.
Pangeran juga terlambat pergi ke sekolah.
Akhirnya, hari itu istana tampak gaduh. Semua bekerja terburu-buru. Eh, eh,
tapi ternyata bukan hanya Jam Istana yang merajuk. Jam-jam di urmah seluruh
penduduk negeri itu juga ngambek.
Jam-jam di kerjaan itu merajuk selama dua hari dua malam. Seluruh istana dan
rakyat menjadi kebingungan. Mereka tidak punya pedoman waktu untuk melakukan
kegiatan seperti biasa. Akhirnya Raja memanggil Kakek bijak dan menemukan
masalahnya.
“Wahai para jam di seluruh kerajaan, apa yang menyebabkan kalian tidak mau
bekerja lagi?” Tanya Kakek Bijak.
“Ah, buat apa kami bekerja, kalau manusia tidak peduli pada kami? Para manusia
sering kali mengabaikan kami. Mereka sering bermalas-malasan dan tidak tepat
waktu,” kata Jam Istana.
Kakek Bijak itu kini mengerti, ia lalu menjelaskan kepada Raja dan rakyat
negeri itu. Mendengar itu Raja dan keluargayanya, serta penduduk negeri itu
menjadi malu. Mereka sadar, selama ini mereka selalu tidak tepat waktu. Raja
dan penduduk negeri berjanji bahwa mereka akan berusaha tepat waktu. Jika
kemalasan mereka terulang, maka jam-jam di kerajaan itu diizinkan untuk ngambek
lagi.
Dikutip
dari Bobo, 16 November 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)